Tugas Perekayasa Dalam Organisasi Fungsional Kerekayasaan

Ditulis 5 April 2010 oleh tasda2010
Kategori: Uncategorized


(Sumber : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI NOMOR 01/Kp/BPPT/I/2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS JABATAN FUNGSIONAL PEREKAYASA DAN ANGKA KREDITNYA)
Fungsi Perekayasa dalam Organisasi Fungsional Kerekayasaan dapat dirincikan dari jenjang Perekayasa yang paling rendah hingga jenjang Perekayasa yang paling tinggi, sebagai berikut.

(1). Staf Perekayasa (Engineering Staff)
Melaksanakan kegiatan penelitian terapan, pengembangan, perekayasaan dan pengoperasian seperti diinstruksikan dalam Program Manual untuk spesifik bidang tertentu, dibawah koordinasi Leader.
Secara rinci tugas Engineering Staff adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan desain konseptual;
2. Melaksanakan desain awal;
3. Melaksanakan desain rinci;
4. Melaksanakan perhitungan;
5. Melaksanakan pengujian;
6. Melaksanakan eksplorasi;
7. Melaksanakan observasi;
8. Melaksanakan pengukuran;
9. Melaksanakan modifikasi produk;
10. Melaksanakan perawatan produk;
11. Melaksanakan studi kelayakan sistem teknologi;
12. Melaksanakan studi banding sistem teknologi;
13. Menuliskan hasil pekerjaan diatas dalam sistem pelaporan yang telah ditentukan dan melaporkan hasilnya kepada Leader

Satuan hasil Kegiatan tersebut di atas adalah Lembar kerja (Working sheet), Benda kerja, foto, Log book, Technical Notes.

(2). Ketua Sub Kelompok (Leader) –> WP
Memipin para Engineering Staff dalam pelaksanaan kegiatan penelitian terapan, pengembangan, perekayasaan dan pengoperasian seperti diinstruksikan dalam Program Manual untuk spesifik bidang tertentu.
Secara rinci tugas Leader adalah sebagai berikut:
1. Memberikan supervisi pelaksanaan desain konseptual;
2. Memberikan supervisi pelaksanaan desain awal;
3. Memberikan supervisi pelaksanaan desain rinci;
4. Memberikan supervisi pelaksanaan perhitungan;
5. Memberikan supervisi pelaksanaan pengujian;
6. Memberikan supervisi pelaksanaan eksplorasi;
7. Memberikan supervisi pelaksanaan observasi;
8. Memberikan supervisi pelaksanaan pengukuran;
9. Memberikan supervisi pelaksanaan modifikasi produk;
10. Memberikan supervisi pelaksanaan perawatan produk;
11. Memberikan supervisi pelaksanaan studi kelayakan sistem teknologi;
12. Memberikan supervisi pelaksanaan studi banding sistem teknologi;
13. Menyelenggarakan pertemuan dan memimpin diskusi dengan para engineering staff tentang pekerjaan mereka;
14. Mempersiapkan bahan presentasi laporan hasil kegiatan Paket Kerja (Work Package) yang dipimpinnya;
15. Memberikan presentasi hasil kegiatan di hadapan Pemimpin Kelompok (Group Leader) secara berkala (pemaparan, diskusi, dan penyimpulan hasil);
16. Sebagai Leader memeriksa Techical Notes;
17. Sebagai Leader mempersiapkan Technical Report/ Technical Memorandum.

Satuan hasil Kegiatan tersebut di atas adalah Lembar kerja (Working sheet), Benda kerja, Log book, Lembar Instruksi Teknik (Instruction Sheet), Lembar Keputusan (Decision Sheet), Materi Presentasi, Technical Notes, dan Technical Report.

(3). Ketua Kelompok (Group Leader) –> WBS
Mengkoordinasikan para Leader dalam pelaksanaan kegiatan penelitian terapan, pengembangan, perekayasaan dan pengoperasian seperti diinstruksikan dalam Program Manual sebagai pemadu beberapa bidang spesifik dalam satu kelompok tertentu yang ia pimpin.
Secara rinci peran dan tugas Group Leader adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan sub-integrasi produk Struktur Rincian Kerja (Work Breakdown Structure) untuk masalah disain/testing/eksplorasiobservasi/pengukuran/modifikasi/perawatan;
2. Mendiskusikan kualitas capaian dari segi teknis dengan melakukan iterasi teknis diantara group yang terkait;
3. Mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan ketepatan waktu, pendanaan, dan pengadaan barang sesuai dengan WBS nya dengan melakukan iterasi yang terkait dengan ketersediaan aliran pendanaan;
4. Membuat perencanaan kontrak kerjasama teknis dengan pihak lain bersama Program Manager;
5. Mengusulkan pengadaan barang dan spesifikasinya kepada Program Manager;
6. Mempersiapkan materi presentasi laporan hasil kegiatan Struktur Rincian Kerja yang dipimpinnya;
7. Memberikan presentasi hasil kegiatan di hadapan Kepala Program (Program Director) secara berkala (paparan, diskusi dan kesimpulan);
8. Mempersiapkan Design Manual/Engineering Manual/Test Manual/Production manual;
9. Menyetujui Technical Notes;
10. Memeriksa Technical Report/ Technical Memorandum;
11. Mempersiapkan Technical Document.
Satuan hasil Kegiatan tersebut di atas adalah Lembar kerja (Working sheet), Benda kerja, Log book, Lembar Instruksi (Instruction Sheet), Kontrak Kerjasama, Lembar Keputusan (Decision Sheet), Materi Presentasi, Lembar Usulan Spesifikasi Teknis, Design/Engineering/Test/ Production Manual, Technical Report/Technical Memorandum, Technical Document.

QUO VADIS NREA: DIMANAKAH STATUS AKUTANSI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

Ditulis 5 April 2010 oleh tasda2010
Kategori: Berita

Tags:

Focus Group Discussion

QUO VADIS NREA?

Pada tanggal 30 Juni, pagi, bertempat di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, kementerian Negara Lingkungan Hidup telah menyelenggarakan  Focus Group Discussion (FGD) dengan topik “QUO VADIS NREA?”.  Penyelenggaraan FGD ini didukung oleh program Environmental Sector Program (ESP) DANIDA, khususnya output Existing Economic Instruments Strengthened as a basis toward Environmental Fiscal Reform (KLH). Diskusi dihadiri oleh sekitar 65 orang yang mewakili anggota DPR (komisi lingkungan), pakar dari perguruan tinggi/akademisi, instansi teknis, dan LSM/organisasi lingkungan.

Penyelenggaraan FGD ini didasarkan pada kenyataan bahwa kemitraan dan upaya pengembangan Sistem Neraca SDA dan Lingkungan (Natural Resource and Environmental Accounting, NREA) telah sejak lama dirintis dan telah melalui berbagai kondisi dan tantangan dalam pengembangannya. Belakangan ini, isu besar yang mengangkat NREA kepermukaan diantaranya reformasi dan otonomi daerah, yang diperkirakan dan kini telah terbukti, akan berdampak signifikan terhadap kondisi sumber daya alam dan lingkungan (SDAL). Pada periode ini dikenal beberapa kegiatan nasional yang terkait dengan NREA, diantaranya Produk Domestik Regional Bruto Hijau, Sistem Terintegrasi  Neraca Lingkungan dan Ekonomi (SINERLING), dan valuasi ekonomi sumber daya alam dan lingkungan. Namun, di sisi lain NREA masih menyisakan kendala implementasinya. Oleh karena itu, Focus Group Discussion ini dilandasi pertanyaan utama tentang keberadaan NREA:  sejauhmana perkembangan NREA dan mampukah NREA berperan sebagai perangkat yang mengawal pembangunan berkelanjutan di Indonesia?

Diskusi yang dilaksanakan dalam format ‘Talkshow’ ini dipandu oleh Bambang Setiadi, Ph.D (selaku Ketua Masyarakat Akuntansi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Indonesia/MASLI) serta menampilkan pewacana dari instansi pemerintah dan akademisi/praktisi. Pada kesempatan ini, Prof. Dr. Emil Salim menyampaikan keynote speech tentang Valuasi SDA untuk Pembangunan Berkelanjutan. Digarisbawahi bahwa untuk menjawab tantangan lingkungan dan pembangunan ditawarkan agenda pemecahannya antara lain dengan mengembangkan ‘pasar buatan’ untuk menampung harga lingkungan dalam struktur biaya pembangunan, mengoreksi dampak lintas sektor dalam matriks ‘ekonomi-sosial-lingkungan’ pembangunan, serta perlunya membangun sistem “willingness to pay and willingness to accept” dalam pengelolaan SDAL.

Topik diskusi NREA didekati dari 2 (dua) topik bahasan. Topik 1 adalah sesi Metodologi. Topik ini merupakan “Refleksi” pengalaman para akademisi dan praktisi NREA terutama dari sisi pengembangan metodologi, yang dalam kesempatan ini diwacanakan oleh  Prof. Akhmad Fauzi, Ph.D (IPB), Awal Subandar, Ph.D (BPPT), dan Drs. Elfian Effendi, MSc (Greenomics Indonesia). Sesi ini menyimpulkan bahwa secara metodologi NREA dapat dikembangkan. Tantangan ke depan adalah bahwa NREA tidak hanya digunakan untuk perhitungan PDB/PDRB Hijau namun diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih luas, yaitu untuk perhitungan neraca keuangan, melengkapi neraca fisik SDAL dengan neraca moneternya. Hal ini dapat dikembangkan dengan memanfaatkan data spasial dan menyediakan perangkat aplikasi untuk memudahkan implementasinya.

Topik 2 menyoroti NREA dari sudut  kebijakan untuk menggali potensi dan komitmen bagaimana NREA dapat “Melangkah ke Depan”. Tema ini dibahas oleh Asdep Urusan Insentif dan Pendanaan Lingkungan – KLH, Direktur LH – Bappenas, dan Kasubdit Konsolidasi Neraca Regional – BPS.  Ketiga institusi ini telah mempunyai kebijakan dan berbagai program di bidang NREA, namun untuk implementasinya masih ditemui tantangan, antara lain perlunya pemahaman dan yang mendalam tentang NREA serta komitmen penerapannya. Langkah yang perlu terus dimodelkan adalah peningkatan koordinasi lintas sektor, misalnya melalui forum NREA.

Sebagai kesimpulan, disepakti bahwa NREA seharusnya dapat membantu menyelesaikan masalah kelembagaan SDAL. Pelaksanaan penerapannya dapat dimulai dengan:

  • Mengembangan penerapan metodologi Valuasi Lingkungan:
    Opportunity loss of income/ cost of production, contingent valuation method, travel cost method, replacement/ reproduction cost method, avoided mitigation cost, hedonic pricing, willingness to pay and willingness to accept in pseudo marke;t
  • Mengaktifkan forum-forum NREA atau bahkan jika diperlukan dapat membentuk kelembagaan untuk mengkoordinasi penerapan NREA;
  • Melanjutkan baik teori maupun implementasi NREA;
  • Peningkatan responsitas terhadap environmental cost, kasus-kasus yang muncul di masyarakat.

Sumber:
Asdep Urusan Insentif dan Pendanaan Lingkungan – KLH
T/F: 021-8517161, 021-8517148 ext 223



Selamat Datang

Ditulis 5 April 2010 oleh tasda2010
Kategori: Lain-lain

Tags:

Terima kasih Anda sudah mengakses blog TASDA – BPPT..
Belum banyak isi yang disajikan tetapi kami akan berusaha menampilkan berbagai hal yang terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh TASDA – BPPT, baik secara individu maupun secara organisasi.
Silakan tuangkan uneg-uneg, saran, sumbang sih pikiran dll kepada kami untuk perbaikan.
Sekali lagi terima kasih Anda sudah mampir.. dan wassalam


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.